![]() |
| lintas pidie,Drs Isa Alima Ketua Komosi C DPRK Pidie bersama Bpk Sunarwan Staf Dirjen Keemnhub RI menyerahkan dokumen DED |
LINTAS PIDIE
Selasa, 05 April 2016
Ketua Komisi C DPRK Kab Pidie PEDULI dengan Terminal Angkot demi Amanah Warganya
Kamis, 18 Februari 2016
KETUA BNPB PUSAT MENINJAU LOKASI BANJIR DI KAB PIDIE
Pada hari Rabu tanggal 17 Februari 2016 di Kecamatan Muara Tiga Laweng telah dikunjungi oleh Kepala BPBN Pusat an. Laksda TNI William Rampangile dalam rangka meninjau dampak pasca banjir di desa papeun Kec. Muara tiga. Kab Pidie, dalam lawatan BNPB tersebut dihadiri juga dari unsur Muspida dan Muspika, dalam acara ini masyarakat Kecamatan Mutiara Tiga sangat Antusias dan senang dengan kehadiran Bpk. Wiliam Rampangnille. acara ini dapat terwujud berkat koordinasi Ketua BNPBA Apriadi dan Ketua Komisi C DPRK Pidie Isa Alima. " Kami sebagai wakil rakyat langsung datang ke Jakarta menyampaikan dampak kerusakan pasca bencana banjir dan penderitaan masyarakat Pidie yang terkena bencana. Bapak William langsung merespon laporan kami dan datang meninjau wilayah ini " ujar Isa Alima kepada Lintaspidie dengan semangat..

Dalam kesempatan ini Bapak Ketua BNPB Pusat juga memberikan bantuan awal berupa uang sebanyak Rp 538 juta yang diterima langsung oleh Bupati Pidie H Sarjani Abdullah.. (Galih S)
Kamis, 11 Februari 2016
PANGLIMA POLEM PAHLAWAN ACEH YG MELEGENDA DAN NASIONALIS
Aceh News – “KPK”, " Selintas Kisah Nasionalisme, Figur Pahlawan Aceh yang melegenda dan Terlupakan….” disini Lintas Pidie akan mencoba mengulas ttg kepahlawanan milik Bangsa Indonesia yg ternyata salah satu putra asal PIDIE
Aceh-KPK : Ketika mendengar kata "Panglima Polim", pasti ingatan kita akan kembali saat kita masih awal mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD), disitu kita dikenalkan dengan sejumlah tokoh pejuang yang termasuk deretan pahlawan nasional atau pejuang nasional. Yach... salah satu dari sekian banyak figur pahlawan nasional Indonesia yang masih kita ingat sampai detik ini yang berasal dari Aceh yang melahirkan beberapa tokoh pejuang nasional Islam seperti Cut Nya Dien (makamnya di Sumedang Jawa Barat), Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro dan Panglima Polim di Aceh Besar.
Selaku pejuang nasional, sosok Panglima Polim bukan satu nama yang asing bagi kita dan gelar Panglima Polem bukan sosok nama satu orang, melainkan sebutan (gelar) turun temurun dari Teuku Imum Itam Maharaja atau dikenal dengan Teuku Di Batee Timoh dan julukan Panglima Polem diturunkan kepada anaknya.
Cut Sakti Lamcot adalah salah satu anaknya yang pertama kali diberikan gelar Panglima Polem. Regenerasi gelar terjadi setelah Cut Sakti Lamcot meninggal dunia, gelar Panglima Polem diwariskan kepada Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Cut Lahat, Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Cut Kleung, Sri Muda Perkasa Panglima Polem Cut Ahmad (1845), Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Mahmud Cut Banta (1879), Sri Muda Teuku Panglima Polem Ibrahim Muda Raja Kuala (1896), dan Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Muhammad Daud (1896-1936).
Pada umumnya, foto yang beredar luas dan dikenal orang dengan foto yang berpose kaca mata bulat dan kupiah meukeutop itu adalah Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Muhammad Daud beristrikan Teuku Ratna, dari istrinya ini lahir seorang putra bernama Teuku Panglima Polem Muhammad Ali atau Panglima Sagi XXII Mukim.
Jika kita berkunjung ke makam Panglima Polim dari Banda Aceh menggunakan kendaraan, baik roda dua atau mobil hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, saat sudah memasuki kawasan Lampakuk, ibu kota dari Kec. Cot Glie, Aceh Besar berarti kita sudah bisa bertanya pada warga setempat untuk petunjuk arah masuk ke lokasi makam tersebut. Berhubung pamflet bertuliskan makam Panglima Polem sudah tidak terlihat jelas dan lapuk dimakan usia. Komplek makam Panglima Polem tepatnya berada di Desa Lam Sie, Kec. Kuta Cot Glie, Kab. Aceh Besar. Tidak begitu jauh dari jalan raya Banda Aceh – Medan. Kondisi jalan ke kampung setempat sudah aspal dan bisa dilalui roda empat. Sekitar beberapa ratus meter masuk ke desa Lam Sie, kita akan jumpa komplek Dayah T. Panglima Polem. Perjalanan belum berakhir, untuk menuju komplek makam masih butuh waktu sekitar 10 menit.
Catatan singkat sejarah perjuangan Panglima Polim demi NKRI :
Teuku Muhammad Ali Panglima Polim, selanjutnya (TMA) Panglima Polim adalah putra Aceh yang patut dikenang bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. TMA Panglima Polim semasa hidupnya (1905-1974) sebagai pejuang sejati kemerdekaan Indonesia.
TMA pernah meninggalkan catatan pengalaman perjuangannya yang mengisahkan bagaimana kesetiaan Aceh terhadap NKRI. Catatan tsb berjudul “Memoir” yang ditulis sendiri Panglima Polim, dalam kata pengantarnya disebutkan, “Uraian dalam Memoir ini berdasarkan pengalaman yang saya kerjakan, yang saya lihat, saya dengar, saya alami, ataupun berdasarkan laporan-laporan di masa lampau”.
Catatan Memoir TMA Panglima Polim ini lama sekali terbekukan dalam bentuk tensilan, tidak ada yang membukukan secara sempurna. Padahal Memoir TMA Panglima Polim ini adalah suatu catatan sejarah yang sangat berharga dan penting diketahui setiap anak bangsa di negeri ini, karena dalam catatan Memoir ini kita akan memahami bagaimana setianya rakyat Aceh terhadap Republik Indonesia.
Kita bersyukur, akhirnya catatan Memoir TMA Panglima Polim yang berharga ini kemudian dibukukan dengan judul “Teuku Muhammad Ali Panglima Polim, Sumbangsih Aceh Bagi Bagi Republik”. Memoir yang disunting Dr. Teuku Muhammad Isa, MPH,MA dan diterbitkan pustaka Sinar Harapan Jakarta, tahun. 1996 ini, memang menarik difahami isinya. Menariknya bukan saja kerana lika-liku perjuangan TMA Panglima Polim yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada NKRI, tapi dengan Memoir tsb, kita akan mengatahui sejarah bagaimana kesetiaan rakyat Aceh terhadap Republik bernama Indonesia.
TMA Panglima Polim adalah sosok pelaku sejarah yang tak dapat diputar balikkan faktanya bagaimana Aceh menyelamatkan Indonesia di awal-awal merdekanya. Keterlibatan TMA Panglima Polim menyelamatkan kemerdekaan Indonesia tidak hanya setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan yang saat itu Indonesia sangat membutuhkan berbagai bantuan masyarakat Aceh untuk menyelamatkan kemerdekaan ini. Tapi jauh sebelum itu TMA Panglima Polim pernah berikrar seperti tertulis dalam catatan Memoir-nya: "pada suatu hari saya (TMA Panglima Polim) bersama T.Nyak Arif, Tjut Hasan, T. Ahmad Djeunieb, T. Djohan Meuraksa dan Tgk. Ali Keurukon dalam suatu permufakatan mengucapkan ikrar bersama dengan sumpah, kami berjanji jika ada kesempatan akan melawan penjajahan Belanda.” Ternyata, kesempatan itu datang menantang TMA Panglima Polim pada tahun 1942. Keadaan Indonesia saat itu semakin genting, termasuk di Aceh. Maka tepatnya tanggal 24 Pebruari 1942, TMA Panglima Polim mengomandoi sebuah gerakan melawan Belanda di Seulimum, Aceh Basar.
Sebelum penyerangan dilakukan, TMA Panglima Polim sempat memberikan pidato singkat kepada rakyat Seulimum yang akan ikut gerakan pemberontakan terhadap Belanda. “Pemberotakan ini adalah pemberontakan perang mengusir Belanda musuh kita, dan ini adalah perang suci. Oleh sebab itu dalam perang ini perlu dijaga norma-norma kesopanan menurut petunjuk agama, jangan melewati batas, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua,” kata TMA Panglima Polim dalam pidatonya ketika itu.
Maka tepat tengah malam 24 Pebruari 1942 penyerangan dilakukan, Belanda kalang kabut, seorang Controleur Belanda bernama Tigerman yang bertugas di Pos Kolonial Seulimum terbunuh dalam pemberontakan itu. Esok harinya langsung tersiar berita keseluruh Aceh bahwa TMA Panglima Polim sudah melakukan pemberontakan terhadap Belanda di Seulimum, Aceh Besar.
Berita itu sekaligus membuat Belanda marah di Kuta Raja (sekarang Banda Aceh). Saat itu Belanda langsung mengirimkan seorang pimpinannya Mayor Palman Van de Broek ke Seulimum untuk memburu Panglima Polim. Semua Uleebalang XXII Mukim dikumpulkan Mayor Palman di Seulimum. Di hadapan semua Uleebalang XXII Mukim itu Mayor Palman Van de Broek berkata: “Kalau TMA Panglima Polim dapat ditangkap tidak akan ditembak, tetapi bawa ia ke Seulimum untuk disalip dan dipertontonkan kepada seluruh ahli familinya dan semua rakyat dalam XXII Mukim.
Saat itu Van de Broek juga mengatakan, bagi siapa yang dapat menangkap Tjut Nyak Bungsu (istri TMA Panglima Polim) akan diberi hadiah Fl. 25.000,-. “Saya di sini pengganti Tuhan, pengganti Nabi Muhammad, Controleur dan panglima sagi,” kata Mayor Palman Van de Broek dengan penuh kemarahan akibat pemberontakan yang dilakukan TMA Panglima Polim di Seulimum ketika itu.
Sebagai putra bangsa yang setia pada perjuangan kemerdekaan TMA Panglima Polim juga tak tinggal diam pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Meskipun posisinya sebagai Kosai Kyokutyo (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat) Pemerintahan Jepang waktu itu, TMA Panglima Polim tatap saja berjuang memonitor perkembangan perjuangan kemerdekaan.
Sampai suatu hari tepatnya 23 Agustus 1945, TMA Panglima Polim bersama T.Nyak Arif dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh dipanggil Tyokang (Kepala Pemerintahan Sipil Jepang untuk Aceh) memberi tahu bahwa Jepang sedang berdamai dengan sekutu, karena dijatuhkannya bom atom di Hirosyima. Dari pemberitahuan itu sebenarnya TMA Panglima Polim, T. Nyak Arif dan Daud Beureueh sudah tabu bahwa Jepang sudah menyerah kalah.
Berita itu bukannya membuat Panglima Polim dan T.Nyak Arif bertambah lega, melainkan makin bertambah panik. Apalagi saat itu berkembang desas-desus ada kelompok yang telah membentuk Comite van Ontvangst untuk menyambut kedatangan Belanda kembali di Aceh. Untung saja saat itu segera tersiar kabar bahwa Indonesia telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Berita prolamasi itu semula diterima seorang pegawai Indonesia pada Jawatan Perhubungan Tentara Jepang, yaitu Saudara Radjalis yang kemudian diteruskan kepada saudara Hadji Djamin pegawai Pos Kutaraja untuk disampaikan kepada T.Nyak Arif.
Bersamaan dengan itu, berita-berita intruksi sekitar proklamasi Indonesia lainnya juga datang dari Bukit Tinggi untuk Aceh. Saat itu, T. Nyak Arif besama TMA Panglima Polim langsung mengambil inisiatif memanggil orang-orang penting di Aceh untuk bersumpah setia kepada Negera Republik Indonesia.
TMA Panglima Polim dalam buku Memoir-nya menceritakan, sumpah setia terhadap negera Republik Indonesia ini mula-mula diucapkan T.Nyak Arif, setalah itu saya TMA Panglima Polim yang kemudian diteruskan oleh semua yang hadir termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan yang menjadi juru sumpah saat itu adalah Tgk. Syeh Saman Siron.
Setelah itu, berdasarkan hasil mufakat T.Nyak Arif diangkat menjadi Residen dan TMA Panglima Polim sebagai asisten Residen untuk menaikan Bendera Merah Putih di depan kantornya. Setelah itu penaikan Bendera Merah Putih ini dilanjutkan ke kantor pusat pemerintahan Tyokang yang bermarkas di komplek (baperis sekarang).Saat itu Van de Broek juga mengatakan, bagi siapa yang dapat menangkap Tjut Nyak Bungsu (istri TMA Panglima Polim) akan diberi hadiah Fl. 25.000,-. “Saya di sini pengganti Tuhan, pengganti Nabi Muhammad, Controleur dan panglima sagi,” kata Mayor Palman Van de Broek dengan penuh kemarahan akibat pemberontakan yang dilakukan TMA Panglima Polim di Seulimum ketika itu.
Sebagai putra bangsa yang setia pada perjuangan kemerdekaan TMA Panglima Polim juga tak tinggal diam pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Meskipun posisinya sebagai Kosai Kyokutyo (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat) Pemerintahan Jepang waktu itu, TMA Panglima Polim tatap saja berjuang memonitor perkembangan perjuangan kemerdekaan.
Sampai suatu hari tepatnya 23 Agustus 1945, TMA Panglima Polim bersama T.Nyak Arif dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh dipanggil Tyokang (Kepala Pemerintahan Sipil Jepang untuk Aceh) memberi tahu bahwa Jepang sedang berdamai dengan sekutu, karena dijatuhkannya bom atom di Hirosyima. Dari pemberitahuan itu sbenarnya TMA Panglima Polim, T.Nyak Arif dan Daud Beureueh sudah tabu bahwa Jepang sudah menyerah kalah.
Berita itu bukannya membuat Panglima Polim dan T.Nyak Arif bertambah lega, melainkan makin bertambah panik. Apalagi saat itu berkembang desas-desus ada kelompok yang telah membentuk Comite van Ontvangst untuk menyambut kedatangan Belanda kembali di Aceh. Untung saja saat itu segera tersiar kabar bahwa Indonesia telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Berita prolamasi itu semula diterima oleh seorang pegawai Indonesia pada Jawatan Perhubungan Tentara Jepang, yaitu Saudara Radjalis yang kemudian diteruskan kepada saudara Hadji Djamin pegawai Pos Kutaraja untuk disampaikan kepada T.Nyak Arif.
Bersamaan dengan itu, berita-berita intruksi sekitar proklamasi Indonesia lainnya juga datang dari Bukit Tinggi untuk Aceh. Saat itu, T. Nyak Arif besama TMA Panglima Polim langsung mengambil inisiatif memanggil orang-orang penting di Aceh untuk bersumpah setia kepada Negera Republik Indonesia.
TMA Panglima Polim dalam buku Memoir-nya menceritakan, sumpah setia terhadap negera Republik Indonesia ini mula-mula diucapkan T.Nyak Arif, setalah itu saya TMA Panglima Polim yang kemudian diteruskan oleh semua yang hadir termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan yang menjadi juru sumpah saat itu adalah Tgk. Syeh Saman Siron.
Setelah itu, berdasarkan hasil mufakat T.Nyak Arif diangkat menjadi Residen dan TMA Panglima Polim sebagai asisten Residen untuk menaikan Bendera Merah Putih di depan kantornya. Setelah itu penaikan Bendera Merah Putih ini dilanjutkan ke kantor pusat pemerintahan Tyokang yang bermarkas di komplek (baperis sekarang). Namun penaikan bendera Merah Putih di depan kantor Tyokang ini, setelah dinaikkan bendera Indonesia ini diturunkan kembali oleh Jepang. T.Nyak Arif bersama TMA Panglima Polim sangat marah. T.Nyak Arif dengan memegang pistol bersama rombongannya kembali ke kantor pusat pemerintahan untuk menaikkan bendera Indonesia kembali halaman kontor itu. T.Nyak Arif mengancam dengan memerintahkan kepada Polisi Istimewa, siapa yang berani menurunkan lagi bendera Merah Putih ini tembak mati mereka, perintah T.Nyak Arif.
Maka berkibarlah Sang Merah Putih untuk pertama kalinya di Aceh dari siang hingga malam hari sebagai lambang cinta dan kesetiaan Aceh terhadap Republik Indonesia.
Kesetiaan Aceh yang diberikan untuk Indonesia ternyata tidah hanya sebatas ikrar tokoh-tokoh perjuangan yang bersumpah akan mpnyelamatkan Indonesia dari musuh-musuh penjajahan. Setalah Indonesia memproklamirkan diri sebagai sebuah nagara yang merdeka, Indonesia tidak segan-segan menyampaikan kesulitannya kepada Aceh. Seperti seorang anak yang tidak segan segan meminta bantuan kepada orang tuanya.
Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh bulan Juni 1948, Sukarno atas nama rakyat Indonesia dalam sebuah pidato jamuan malam di Hotel Aceh dengan sejumlah pengusaha Aceh, waktu itu GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), Presiden Sukarno tidak segan-segan meminta rakyar Aceh untuk dapat membelikan sebuah pesawat Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh bulan Juni 1948, Sukarno atas nama rakyat Indonesia dalam sebuah pidato jamuan malam di Hotel Aceh dengan sejumlah pengusaha Aceh, waktu itu GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), Presiden Sukarno tidak segan-segan meminta rakyar Aceh untuk dapat membelikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan pemerintahan Indonesia yang baru merdeka. “Saya belum mau makan malam sebelum ada jawaban pasti ‘ya’ atau ‘tidak’ dari saudara-saudara,” kata Presiden Sukarno diakhir pidatonya malam itu. Maksudnya, Sukarno ingin sebuah jawaban yang jelas dari rakyat Aceh untuk menyanggupi memberikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan perjuangan Indonesia yang baru merdeka.
Dalam hal ini lagi-lagi TMA Panglima Polim diuji kesetiannya kepada Republik Indonesia. Tanpa basa-basi atas nama GASIDA TMA Panglima Polim mengabulkan permintaan Presiden Sukarno untuk menyumbangkan sebuah pesawat terbang kepada pemerintah Republik Indonesia.
Harga sebuah kapal terbang jenis Dakota (bekas pakai) waktu itu sekitar 120.000,00 Dolar Malaysia. Kalau dengan harga emas sebanyak 25 Kg emas. Lalu dibentuklah panitia pembelian pesawat terbang oleh GASIDA, TMA Panglima Polim dipercayakan mengetuai panitia pembelian pesawat tersebut.
Beberapa hari setelah itu TMA Panglima Polim menemui Residen Aceh untuk membicarakan teknis penyerahan pesawat itu secara simbolis kepada pemerintah Republik Indonesia. Yang anehnya, saking setianya rakyat Aceh kepada NKRI pesawat yang diminta Sukarno tidak hanya satu yang disumbangkan, tapi dua pesawat sekaligus. Yang satu pesawat sumbangan dari GASIDA, yang satu lagi sumbangan seluruh rakyat Aceh. Dua pesawat hasil sumbangan Aceh kepada Republik Indonesia ini kemudian diberi nama “Seulawah 01” dan “Seulawah 02”. Dua pesawat inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.
Sayangnya, meskipun TMA Panglima Polim salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia di Aceh yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di hari-hari tuanya, nasib Panglima Polim sungguh menyedihkan.
Setelah hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk perjuangan, sangat pantas kalau para ahli waris panglima Polim mempertanyakan apakah ia dapat memperoleh uang pensiun selaku pejabat negara Republik Indonesia. Di tengah duka nestapa, akhirnya TMA Panglima Polim menghembuskan nafas terakhir, kembali kehadhirat Ilahi Rabbi, 6 Januari 1974. Sungguh sebuah kesetiaan pengabdian yang diberikan kepada Bangsa. Secara kasat mata, duka nestapa (alm) Panglima Polim sampai saat ini bisa kita lihat... walaupun makam alm. Panglima Polim termasuk dalam asset cagar budaya pemerintah daerah (entah sumber dana APBD atau APBA/Provinsi) yang seharusnya dijaga dan dirawat, namun kenyataannya jauh panggang dari api, sangat tidak terawat, penuh sampah dan kotor. Kita ingat pepatah yang tidak kalah tuanya, bahwa " bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.." (Hendra kpk/staf redaksi/perwakilan Aceh-Aceh Besar).
Selasa, 09 Februari 2016
KOTA SIGLI GELAP GULITA AKIBAT MELEDAKNYA GARDU LISTRIK DI JLN DIPENOGORO BLOK BENGKEL
Tepat pukul 23.00 Wib gardu listrik di jalan Dipenogoro tepatnya yg berada disisi kanan Jln Blok Bengkel mengeluarkan dentuman keras
Lintas Pidie sedang asyik duduk di warung kopi di pinggir jalan perdagangan tiba tiba tepat pukul 23.02 Wib terdengar dentuman keras seketika itu juga langsung padam di sebagian kota Sigli suara yang keras mengakibatkan masyarakat sekitar panik dan was was
Beberapa menit kemudian Lintas Pidie mencoba menghubungi Menejer Area PLN Sigli untuk menginformasikan kejadian tersebut dan langsung di respon dengan cepat oleh bpk Haris Andika dan akan segera kami luncurkan unit perbaikan ke TKP ujarnya dg penuh semangat. Selanjutnya bpk Haris Andika meberikan keterangan bahwa sekitar pukul 16.30 tadi sore tim kami sdh memperbaiki gardu tsb berdasarkan laporan dari masyarakat bahwa gardu tsb mengeluarkan asap dan percikan api dan selesai. Mudah mudahan dalam waktu 45 menit akan kembali normal tidak akan lama pemadaman ini. Begitulah sekilas info yg dapat kami berikan
KEPEDULIAN ANGGOTA DPRK PIDIE DAN PEMERINTAH DAERAH DALAM UPAYANYA REHAB PASCA BANJIR
![]() |
| Bpk Isa Alima berjabat tangan dengan Bpk Gatot Satria |
Sabtu, 06 Februari 2016
Mengenal apa itu ALAABAS
Banyak masyarakat Aceh yg belum mengerti ttg Renc pembentukan Provinsi Aceh Louser Antara Aceh Barat Selatan atau yg dikenal ALAABAS terutama di Kab Kab yg tidak termasuk Pemekaran Provinsi ini.pemekaran makin di depan mata diharapkan dengan terbentuknya Pemekaran Provinsi ALAABAS akan lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Termasuk masyarakat Aceh yang sekarang. Pemekaran tersebut mendapatkan respon yang sangat luar biasa masyarakatnya penuh dengan harapan agar cita cita ini menjadi kenyataan.
Tak luput pula Lintas Pidie berkesempatan untuk mewancarai dg para tokoh tokoh ALAABAS mari kita simak penelusuran Lintas Pidie
Dengan semangat yg berapi api
Khairul Munadi, Koordinator Konvoi mengatakan kepada Lintas Pidie “Peserta Konvoi sangat bersemangat, Kami selanjutnya akan memasang Spanduk Selamat Datang di Provinsi ALABAS di Geurutee.”
Aksi tersebut dilakukan untuk menunjukkan kepada pemerintah pusat bahwa masyarakat di wilayah Aceh Barat Selatan (ABAS) sangat mendukung bergabung dengan ALA, Jika ALA Di Bentuk Provinsi. Mari kita dukung pemekeran ini. Bagas
Kamis, 04 Februari 2016
Kegiatan Partai GERINDRA Kab Pidie Dalam Rangka Ulang Tahunnya Yang Ke 8
A. Dinas Kebersihan. 118 paket
B. Panti yatim piatu minaraya 32 paket
C. Panti Bambi 75 paket.
Selanjutnya diharapkan kegiatan ini dapat memberikan faedah dan manfaat bagi masyarakat umum



