Laman

Kamis, 18 Februari 2016

KETUA BNPB PUSAT MENINJAU LOKASI BANJIR DI KAB PIDIE

.

Pada hari Rabu tanggal 17 Februari 2016  di Kecamatan Muara Tiga Laweng telah dikunjungi oleh  Kepala BPBN Pusat an. Laksda TNI William Rampangile  dalam rangka meninjau dampak pasca banjir di  desa papeun Kec. Muara tiga. Kab Pidie,  dalam lawatan BNPB tersebut dihadiri juga dari unsur Muspida dan Muspika,  dalam acara ini masyarakat Kecamatan Mutiara Tiga sangat Antusias dan senang dengan kehadiran Bpk. Wiliam Rampangnille. acara ini dapat terwujud berkat koordinasi Ketua BNPBA Apriadi dan Ketua Komisi C  DPRK Pidie Isa Alima. " Kami sebagai wakil rakyat langsung datang ke Jakarta menyampaikan dampak kerusakan pasca bencana banjir dan penderitaan masyarakat Pidie yang terkena bencana. Bapak William langsung merespon laporan kami dan datang meninjau wilayah ini " ujar Isa Alima kepada Lintaspidie dengan semangat..
Kegiatan tinjauan BNPB tersebut di awali dengan sambutan Kepala Bappeda tentang penjelasan geografis letak Kabupaten Pidie yang rawan banjir ini akibat kerusakan hutan serta alih fungsi hutan yang ada dan juga karena sungai yang tidak dapat menampung debit air bila terjadi curah hujan yang tinggi di Kabupaten Pidie.

"   Kami  di Kab Pidie dalam awal tahun ini sudah beberapa kali mengalami banjir, akibatnya banyak kerugian yang  kami alami seperti hanyut beberapa rumah warga, kerusakan jembatan, terendamnya sawah-sawah,  warga baru memasuki masa-masa tanam.dan Tambak ikan/udang yang siap panen.

 Kami juga memohon bantuan rehap rekon dari Pusat dalam hal untuk mengurangi beban warga yang terkena dampak dari banjir yg melanda Kab Pidie" ujar H Sarjani Abdullah selaku Bupati Pidie yang ikut memberikan kata sambutan kepada Kepala BNPB."Penanganan serius dampak banjir ini sejalan dengan kebijakan nasional yang meutamakan resiko nasional akibat bencana, terutama banjir dan longsor.  BNPB Pusat  akan menangapi usulan pemda untuk membantu kesulitan warga di Kab Pidie dan berjanji akan membantu rehap rekon serta normalisasi sungai-sungai yang perlu penanganan agar di Kab Pidie bencana banjir tdk terulang lagi" ujar Kepala BNPB dalam mengambil kata sambutan terhadap masyarakat serempat.


  Dalam kesempatan ini Bapak Ketua BNPB Pusat juga memberikan bantuan awal berupa uang sebanyak Rp 538 juta yang diterima langsung oleh Bupati Pidie H Sarjani Abdullah..          (Galih S)

Kamis, 11 Februari 2016

PANGLIMA POLEM PAHLAWAN ACEH YG MELEGENDA DAN NASIONALIS

Aceh News – “KPK”, " Selintas Kisah Nasionalisme, Figur Pahlawan Aceh yang melegenda dan Terlupakan….” disini Lintas Pidie akan mencoba mengulas ttg kepahlawanan milik Bangsa Indonesia yg ternyata salah satu putra asal PIDIE

Aceh-KPK : Ketika mendengar kata "Panglima Polim", pasti ingatan kita akan kembali saat kita masih awal mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD), disitu kita dikenalkan dengan sejumlah tokoh pejuang yang termasuk deretan pahlawan nasional atau pejuang nasional.  Yach... salah satu dari sekian banyak figur pahlawan nasional Indonesia yang masih kita ingat sampai detik ini yang berasal dari Aceh yang melahirkan beberapa tokoh pejuang nasional Islam seperti Cut Nya Dien (makamnya di Sumedang Jawa Barat), Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro dan Panglima Polim di Aceh Besar.

Selaku pejuang nasional, sosok Panglima Polim bukan satu nama yang asing bagi kita dan gelar Panglima Polem bukan sosok nama satu orang, melainkan sebutan (gelar) turun temurun dari Teuku Imum Itam Maharaja atau dikenal dengan Teuku Di Batee Timoh dan julukan Panglima Polem diturunkan kepada anaknya.

Cut Sakti Lamcot adalah salah satu anaknya yang pertama kali diberikan gelar Panglima Polem. Regenerasi gelar terjadi setelah Cut Sakti Lamcot meninggal dunia, gelar Panglima Polem diwariskan kepada Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Cut Lahat, Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Cut Kleung, Sri Muda Perkasa Panglima Polem Cut Ahmad (1845), Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Mahmud Cut Banta (1879), Sri Muda Teuku Panglima Polem Ibrahim Muda Raja Kuala (1896), dan Sri Muda Perkasa Teuku Panglima Polem Muhammad Daud (1896-1936).

Pada umumnya, foto yang beredar luas dan dikenal orang dengan foto yang berpose kaca mata bulat dan kupiah meukeutop itu adalah Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Muhammad Daud beristrikan Teuku Ratna, dari istrinya ini lahir seorang putra bernama Teuku Panglima Polem Muhammad Ali atau Panglima Sagi XXII Mukim.

Jika kita berkunjung ke makam Panglima Polim dari Banda Aceh menggunakan kendaraan, baik roda dua atau mobil hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, saat sudah memasuki kawasan Lampakuk, ibu kota dari Kec. Cot Glie, Aceh Besar berarti kita sudah bisa bertanya pada warga setempat untuk petunjuk arah masuk ke lokasi makam tersebut.  Berhubung pamflet bertuliskan makam Panglima Polem sudah tidak terlihat jelas dan lapuk dimakan usia. Komplek makam Panglima Polem tepatnya berada di Desa Lam Sie, Kec. Kuta Cot Glie, Kab. Aceh Besar. Tidak begitu jauh dari jalan raya Banda Aceh – Medan. Kondisi jalan ke kampung setempat sudah aspal dan bisa dilalui roda empat. Sekitar  beberapa ratus meter masuk ke desa Lam Sie, kita akan jumpa komplek Dayah T. Panglima Polem. Perjalanan belum berakhir, untuk menuju komplek makam masih butuh waktu sekitar 10 menit.

Catatan singkat sejarah perjuangan Panglima Polim demi NKRI :

Teuku Muhammad Ali Panglima Polim, selanjutnya (TMA) Panglima Polim adalah putra Aceh yang patut dikenang bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. TMA Panglima Polim semasa hidupnya (1905-1974) sebagai pejuang sejati kemerdekaan Indonesia.

TMA pernah meninggalkan catatan pengalaman perjuangannya yang mengisahkan bagaimana kesetiaan Aceh terhadap NKRI. Catatan tsb berjudul “Memoir” yang ditulis sendiri Panglima Polim, dalam kata pengantarnya disebutkan, “Uraian dalam Memoir ini berdasarkan pengalaman yang saya kerjakan, yang saya lihat, saya dengar, saya alami, ataupun berdasarkan laporan-laporan di masa lampau”.

Catatan Memoir TMA Panglima Polim ini lama sekali terbekukan dalam bentuk tensilan, tidak ada yang membukukan secara sempurna. Padahal Memoir TMA Panglima Polim ini adalah suatu catatan sejarah yang sangat berharga dan penting diketahui setiap anak bangsa di negeri ini, karena dalam catatan Memoir ini kita akan memahami bagaimana setianya rakyat Aceh terhadap Republik Indonesia.

Kita bersyukur, akhirnya catatan Memoir TMA Panglima Polim yang berharga ini kemudian dibukukan dengan judul “Teuku Muhammad Ali Panglima Polim, Sumbangsih Aceh Bagi Bagi Republik”. Memoir yang disunting Dr. Teuku Muhammad Isa, MPH,MA dan diterbitkan pustaka Sinar Harapan Jakarta, tahun. 1996 ini, memang menarik difahami isinya. Menariknya bukan saja kerana lika-liku perjuangan TMA Panglima Polim yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada NKRI, tapi dengan Memoir tsb, kita akan mengatahui sejarah bagaimana kesetiaan rakyat Aceh terhadap Republik bernama Indonesia.

TMA Panglima Polim adalah sosok pelaku sejarah yang tak dapat diputar balikkan faktanya bagaimana Aceh menyelamatkan Indonesia di awal-awal merdekanya. Keterlibatan TMA Panglima Polim menyelamatkan kemerdekaan Indonesia tidak hanya setelah Soekarno memproklamirkan kemerdekaan yang saat itu Indonesia sangat membutuhkan berbagai bantuan masyarakat Aceh untuk menyelamatkan kemerdekaan ini. Tapi jauh sebelum itu TMA Panglima Polim pernah berikrar seperti tertulis dalam catatan Memoir-nya: "pada suatu hari saya (TMA Panglima Polim) bersama T.Nyak Arif, Tjut Hasan, T. Ahmad Djeunieb, T. Djohan Meuraksa dan Tgk. Ali Keurukon dalam suatu permufakatan mengucapkan ikrar bersama dengan sumpah, kami berjanji jika ada kesempatan akan melawan penjajahan Belanda.” Ternyata, kesempatan itu datang menantang TMA Panglima Polim pada tahun 1942. Keadaan Indonesia saat itu semakin genting, termasuk di Aceh. Maka tepatnya tanggal 24 Pebruari 1942, TMA Panglima Polim mengomandoi sebuah gerakan melawan Belanda di Seulimum, Aceh Basar.

Sebelum penyerangan dilakukan, TMA Panglima Polim sempat memberikan pidato singkat kepada rakyat Seulimum yang akan ikut gerakan pemberontakan terhadap Belanda. “Pemberotakan ini adalah pemberontakan perang mengusir Belanda musuh kita, dan ini adalah perang suci. Oleh sebab itu dalam perang ini perlu dijaga norma-norma kesopanan menurut petunjuk agama, jangan melewati batas, jangan membunuh wanita, anak-anak dan orang tua,” kata TMA Panglima Polim dalam pidatonya ketika itu.

Maka tepat tengah malam 24 Pebruari 1942 penyerangan dilakukan, Belanda kalang kabut, seorang Controleur Belanda bernama Tigerman yang bertugas di Pos Kolonial Seulimum terbunuh dalam pemberontakan itu. Esok harinya langsung tersiar berita keseluruh Aceh bahwa TMA Panglima Polim sudah melakukan pemberontakan terhadap Belanda di Seulimum, Aceh Besar.

Berita itu sekaligus membuat Belanda marah di Kuta Raja (sekarang Banda Aceh). Saat itu Belanda langsung mengirimkan seorang pimpinannya Mayor Palman Van de Broek ke Seulimum untuk memburu Panglima Polim. Semua Uleebalang XXII Mukim dikumpulkan Mayor Palman di Seulimum. Di hadapan semua Uleebalang XXII Mukim itu Mayor Palman Van de Broek berkata: “Kalau TMA Panglima Polim dapat ditangkap tidak akan ditembak, tetapi bawa ia ke Seulimum untuk disalip dan dipertontonkan kepada seluruh ahli familinya dan semua rakyat dalam XXII Mukim.

Saat itu Van de Broek juga mengatakan, bagi siapa yang dapat menangkap Tjut Nyak Bungsu (istri TMA Panglima Polim) akan diberi hadiah Fl. 25.000,-. “Saya di sini pengganti Tuhan, pengganti Nabi Muhammad, Controleur dan panglima sagi,” kata Mayor Palman Van de Broek dengan penuh kemarahan akibat pemberontakan yang dilakukan TMA Panglima Polim di Seulimum ketika itu.

Sebagai putra bangsa yang setia pada perjuangan kemerdekaan TMA Panglima Polim juga tak tinggal diam pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Meskipun posisinya sebagai Kosai Kyokutyo (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat) Pemerintahan Jepang waktu itu, TMA Panglima Polim tatap saja berjuang memonitor perkembangan perjuangan kemerdekaan.

Sampai suatu hari tepatnya 23 Agustus 1945, TMA Panglima Polim bersama T.Nyak Arif dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh dipanggil Tyokang (Kepala Pemerintahan Sipil Jepang untuk Aceh) memberi tahu bahwa Jepang sedang berdamai dengan sekutu, karena dijatuhkannya bom atom di Hirosyima. Dari pemberitahuan itu sebenarnya TMA Panglima Polim, T. Nyak Arif dan Daud Beureueh sudah tabu bahwa Jepang sudah menyerah kalah.

Berita itu bukannya membuat Panglima Polim dan T.Nyak Arif bertambah lega, melainkan makin bertambah panik. Apalagi saat itu berkembang desas-desus ada kelompok yang telah membentuk Comite van Ontvangst untuk menyambut kedatangan Belanda kembali di Aceh. Untung saja saat itu segera tersiar kabar bahwa Indonesia telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Berita prolamasi itu semula diterima seorang pegawai Indonesia pada Jawatan Perhubungan Tentara Jepang, yaitu Saudara Radjalis yang kemudian diteruskan kepada saudara Hadji Djamin pegawai Pos Kutaraja untuk disampaikan kepada T.Nyak Arif.

Bersamaan dengan itu, berita-berita intruksi sekitar proklamasi Indonesia lainnya juga datang dari Bukit Tinggi untuk Aceh. Saat itu, T. Nyak Arif besama TMA Panglima Polim langsung mengambil inisiatif memanggil orang-orang penting di Aceh untuk bersumpah setia kepada Negera Republik Indonesia.

TMA Panglima Polim dalam buku Memoir-nya menceritakan, sumpah setia terhadap negera Republik Indonesia ini mula-mula diucapkan T.Nyak Arif, setalah itu saya TMA Panglima Polim yang kemudian diteruskan oleh semua yang hadir termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan yang menjadi juru sumpah saat itu adalah Tgk. Syeh Saman Siron.

Setelah itu, berdasarkan hasil mufakat T.Nyak Arif diangkat menjadi Residen dan TMA Panglima Polim sebagai asisten Residen untuk menaikan Bendera Merah Putih di depan kantornya. Setelah itu penaikan Bendera Merah Putih ini dilanjutkan ke kantor pusat pemerintahan Tyokang yang bermarkas di komplek (baperis sekarang).Saat itu Van de Broek juga mengatakan, bagi siapa yang dapat menangkap Tjut Nyak Bungsu (istri TMA Panglima Polim) akan diberi hadiah Fl. 25.000,-. “Saya di sini pengganti Tuhan, pengganti Nabi Muhammad, Controleur dan panglima sagi,” kata Mayor Palman Van de Broek dengan penuh kemarahan akibat pemberontakan yang dilakukan TMA Panglima Polim di Seulimum ketika itu.

Sebagai putra bangsa yang setia pada perjuangan kemerdekaan TMA Panglima Polim juga tak tinggal diam pada masa pendudukan Jepang di Aceh. Meskipun posisinya sebagai Kosai Kyokutyo (Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat) Pemerintahan Jepang waktu itu, TMA Panglima Polim tatap saja berjuang memonitor perkembangan perjuangan kemerdekaan.

Sampai suatu hari tepatnya 23 Agustus 1945, TMA Panglima Polim bersama T.Nyak Arif dan Tgk. Muhammad Daud Beureueh dipanggil Tyokang (Kepala Pemerintahan Sipil Jepang untuk Aceh) memberi tahu bahwa Jepang sedang berdamai dengan sekutu, karena dijatuhkannya bom atom di Hirosyima. Dari pemberitahuan itu sbenarnya TMA Panglima Polim, T.Nyak Arif dan Daud Beureueh sudah tabu bahwa Jepang sudah menyerah kalah.

Berita itu bukannya membuat Panglima Polim dan T.Nyak Arif bertambah lega, melainkan makin bertambah panik. Apalagi saat itu berkembang desas-desus ada kelompok yang telah membentuk Comite van Ontvangst untuk menyambut kedatangan Belanda kembali di Aceh. Untung saja saat itu segera tersiar kabar bahwa Indonesia telah diproklamirkan kemerdekaannya oleh Sukarno-Hatta di Jakarta. Berita prolamasi itu semula diterima oleh seorang pegawai Indonesia pada Jawatan Perhubungan Tentara Jepang, yaitu Saudara Radjalis yang kemudian diteruskan kepada saudara Hadji Djamin pegawai Pos Kutaraja untuk disampaikan kepada T.Nyak Arif.

Bersamaan dengan itu, berita-berita intruksi sekitar proklamasi Indonesia lainnya juga datang dari Bukit Tinggi untuk Aceh. Saat itu, T. Nyak Arif besama TMA Panglima Polim langsung mengambil inisiatif memanggil orang-orang penting di Aceh untuk bersumpah setia kepada Negera Republik Indonesia.

TMA Panglima Polim dalam buku Memoir-nya menceritakan, sumpah setia terhadap negera Republik Indonesia ini mula-mula diucapkan T.Nyak Arif, setalah itu saya TMA Panglima Polim yang kemudian diteruskan oleh semua yang hadir termasuk Tgk. Muhammad Daud Beureueh. Sedangkan yang menjadi juru sumpah saat itu adalah Tgk. Syeh Saman Siron.

Setelah itu, berdasarkan hasil mufakat T.Nyak Arif diangkat menjadi Residen dan TMA Panglima Polim sebagai asisten Residen untuk menaikan Bendera Merah Putih di depan kantornya. Setelah itu penaikan Bendera Merah Putih ini dilanjutkan ke kantor pusat pemerintahan Tyokang yang bermarkas di komplek (baperis sekarang). Namun penaikan bendera Merah Putih di depan kantor Tyokang ini, setelah dinaikkan bendera Indonesia ini diturunkan kembali oleh Jepang. T.Nyak Arif bersama TMA Panglima Polim sangat marah. T.Nyak Arif dengan memegang pistol bersama rombongannya kembali ke kantor pusat pemerintahan untuk menaikkan bendera Indonesia kembali halaman kontor itu. T.Nyak Arif mengancam dengan memerintahkan kepada Polisi Istimewa, siapa yang berani menurunkan lagi bendera Merah Putih ini tembak mati mereka, perintah T.Nyak Arif.

Maka berkibarlah Sang Merah Putih untuk pertama kalinya di Aceh dari siang hingga malam hari sebagai lambang cinta dan kesetiaan Aceh terhadap Republik Indonesia.

Kesetiaan Aceh yang diberikan untuk Indonesia ternyata tidah hanya sebatas ikrar tokoh-tokoh perjuangan yang bersumpah akan mpnyelamatkan Indonesia dari musuh-musuh penjajahan. Setalah Indonesia memproklamirkan diri sebagai sebuah nagara yang merdeka, Indonesia tidak segan-segan menyampaikan kesulitannya kepada Aceh. Seperti seorang anak yang tidak segan segan meminta bantuan kepada orang tuanya.

Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh bulan Juni 1948, Sukarno atas nama rakyat Indonesia dalam sebuah pidato jamuan malam di Hotel Aceh dengan sejumlah pengusaha Aceh, waktu itu GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), Presiden Sukarno tidak segan-segan meminta rakyar Aceh untuk dapat membelikan sebuah pesawat Ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh bulan Juni 1948, Sukarno atas nama rakyat Indonesia dalam sebuah pidato jamuan malam di Hotel Aceh dengan sejumlah pengusaha Aceh, waktu itu GASIDA (Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh), Presiden Sukarno tidak segan-segan meminta rakyar Aceh untuk dapat membelikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan pemerintahan Indonesia yang baru merdeka. “Saya belum mau makan malam sebelum ada jawaban pasti ‘ya’ atau ‘tidak’ dari saudara-saudara,” kata Presiden Sukarno diakhir pidatonya malam itu. Maksudnya, Sukarno ingin sebuah jawaban yang jelas dari rakyat Aceh untuk menyanggupi memberikan sebuah pesawat udara untuk kepentingan perjuangan Indonesia yang baru merdeka.

Dalam hal ini lagi-lagi TMA Panglima Polim diuji kesetiannya kepada Republik Indonesia. Tanpa basa-basi atas nama GASIDA TMA Panglima Polim mengabulkan permintaan Presiden Sukarno untuk menyumbangkan sebuah pesawat terbang kepada pemerintah Republik Indonesia.

Harga sebuah kapal terbang jenis Dakota (bekas pakai) waktu itu sekitar 120.000,00 Dolar Malaysia. Kalau dengan harga emas sebanyak 25 Kg emas. Lalu dibentuklah panitia pembelian pesawat terbang oleh GASIDA, TMA Panglima Polim dipercayakan mengetuai panitia pembelian pesawat tersebut.

Beberapa hari setelah itu TMA Panglima Polim menemui Residen Aceh untuk membicarakan teknis penyerahan pesawat itu secara simbolis kepada pemerintah Republik Indonesia. Yang anehnya, saking setianya rakyat Aceh kepada NKRI pesawat yang diminta Sukarno tidak hanya satu yang disumbangkan, tapi dua pesawat sekaligus. Yang satu pesawat sumbangan dari GASIDA, yang satu lagi sumbangan seluruh rakyat Aceh. Dua pesawat hasil sumbangan Aceh kepada Republik Indonesia ini kemudian diberi nama “Seulawah 01” dan “Seulawah 02”. Dua pesawat inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Sayangnya, meskipun TMA Panglima Polim salah seorang putra terbaik bangsa Indonesia di Aceh yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di hari-hari tuanya, nasib Panglima Polim sungguh menyedihkan.

Setelah hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk perjuangan, sangat pantas kalau para ahli waris panglima Polim mempertanyakan apakah ia dapat memperoleh uang pensiun selaku pejabat negara Republik Indonesia. Di tengah duka nestapa, akhirnya TMA Panglima Polim menghembuskan nafas terakhir, kembali kehadhirat Ilahi Rabbi, 6 Januari 1974.  Sungguh sebuah kesetiaan pengabdian yang diberikan kepada Bangsa. Secara kasat mata, duka nestapa (alm) Panglima Polim sampai saat ini bisa kita lihat... walaupun makam alm. Panglima Polim termasuk dalam asset cagar budaya pemerintah daerah (entah sumber dana APBD atau APBA/Provinsi) yang seharusnya dijaga dan dirawat, namun kenyataannya jauh panggang dari api, sangat tidak terawat,  penuh sampah dan kotor.  Kita ingat pepatah yang tidak kalah tuanya, bahwa " bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya.." (Hendra kpk/staf redaksi/perwakilan Aceh-Aceh Besar).

Selasa, 09 Februari 2016

KOTA SIGLI GELAP GULITA AKIBAT MELEDAKNYA GARDU LISTRIK DI JLN DIPENOGORO BLOK BENGKEL

Tepat pukul 23.00 Wib gardu listrik di jalan Dipenogoro tepatnya yg berada disisi kanan Jln Blok Bengkel mengeluarkan dentuman keras

Lintas Pidie sedang asyik duduk di warung kopi di pinggir jalan perdagangan tiba tiba tepat pukul 23.02 Wib terdengar dentuman keras seketika itu juga langsung padam di sebagian kota Sigli  suara yang keras mengakibatkan masyarakat sekitar panik dan was was

Beberapa menit kemudian Lintas Pidie mencoba menghubungi Menejer Area PLN Sigli untuk menginformasikan kejadian tersebut dan langsung di respon dengan cepat  oleh bpk Haris Andika dan akan segera kami luncurkan unit perbaikan ke TKP ujarnya dg penuh semangat. Selanjutnya bpk Haris Andika meberikan keterangan bahwa sekitar pukul 16.30 tadi sore tim kami sdh memperbaiki gardu tsb berdasarkan laporan dari masyarakat bahwa gardu tsb mengeluarkan asap dan percikan api dan selesai. Mudah mudahan dalam waktu 45 menit akan kembali normal tidak akan lama pemadaman ini. Begitulah sekilas info yg dapat kami berikan

KEPEDULIAN ANGGOTA DPRK PIDIE DAN PEMERINTAH DAERAH DALAM UPAYANYA REHAB PASCA BANJIR

Bpk Isa Alima berjabat tangan dengan Bpk Gatot Satria
Isa Alima Ketua Komisi C DPRK Pidie bersama bpk Gatot Satria Kabid Darurat di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia (BNPB RI).09216

Merespon keluhan masyarakat pasca banjir di Kabupaten Pidie, Ketua Komisi C DPR Kabupaten Pidie,  Isa Alima, bertemu Kabid Darurat BNPB Pusat, Gatot Satria, Selasa (9/2) di Jakarta.
Pertemuan tersebut selain Isa Alima juga hadir Apriadi selaku Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)kab Pidie serta Kepala Bappeda Pidie, Muhammad Adam.
Menurut Isa Alima, respon pemerintah dan DPR menanggulangi permasalahan rakyat pasca banjir menjadi prioritas utama yang perlu dilaksanakan. "Dana darurat perlu segera dicari, kata Isa.
Dalam pertemuan tersebut, pihaknya mengupayakan permohonan dana sebesar Rp 23 Miliar untuk perbaikan dan membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana banjir dua minggu yang lalu.
"Jembatan ada beberapa unit yang perlu di bangun kembali, seperti di Gampong Papeun Muara Tiga" ujar Isa Alima yang turut serta hadir di lapangam saat banjir melanda sejumlah desa di Kabupaten Pidie.
Upaya yang sedang ditempuh kata Isa, perlu mendapat respon yang baik dari pemerintah pusat. Karena lanjutnya, permohonan ini sesuai dengan kebutuhan darurat di lapangan. "Demi kebutuhan masyarakat, pemerintah pusat harus mengambil peran penting," tegasnya.

Sabtu, 06 Februari 2016

Mengenal apa itu ALAABAS

Banyak masyarakat Aceh yg belum mengerti ttg Renc pembentukan Provinsi Aceh Louser Antara Aceh Barat Selatan atau yg dikenal ALAABAS terutama di Kab Kab yg tidak termasuk Pemekaran Provinsi ini.
pemekaran makin di depan mata diharapkan dengan terbentuknya Pemekaran Provinsi ALAABAS akan lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Termasuk masyarakat Aceh yang sekarang.  Pemekaran tersebut mendapatkan respon yang sangat luar biasa  masyarakatnya penuh dengan harapan agar cita cita ini menjadi kenyataan.  
Tak luput pula Lintas Pidie berkesempatan untuk mewancarai dg para tokoh tokoh ALAABAS  mari kita simak penelusuran Lintas Pidie
Ratusan Pemuda dan Mahasiswa Barat Selatan Konvoi Menuju Meulaboh 
• Ratusan pemuda dan mahasiswa barat selatan dengan atribut lengkap yang berkonvoi menuju Meulaboh bergerak dari stadion H Dimurtala pada pukul 11.00. Sesuai dengan rencana, Rombongan Konvoi menitipkan bendera ALABAS di Kantor DPRA.
“Kami telah menitip bendera di DPRA baru saja kami naikkan di tiang utama.” Ungkap Poen Che’k ketua rombongan Aceh Jaya kepada lintas Pidie
Dengan semangat yg berapi api
Khairul Munadi, Koordinator Konvoi mengatakan kepada Lintas Pidie “Peserta Konvoi sangat bersemangat, Kami selanjutnya akan memasang Spanduk Selamat Datang di Provinsi ALABAS di Geurutee.”
Mutia Anzib, Ketua KP3 Aceh Jaya menyatakan “Di Calang, masyarakat Aceh Jaya sudah siap menanti dan menjamu peserta konvoi yang saat ini sudah bergerak, kami siapkan nasi untuk berapapun peserta yang ikut serta, masyarakat Aceh Jaya sangat antusias terhadap pemekaran Aceh Provinsi Baru (ALABAS) adalah harapan bersama,” tutup Mutia. Mengakhiri wawancara kami di tengah hiruk pikuknya suasana
Sementara itu, Lintas Pidie mengikuti konvoi dengan cuaca disepanjang jalan BNA – MBO terlihat berawan. Ini sangat mendukung perjalanan peserta konvoi hingga tiba di Meulaboh. 
Aksi tersebut dilakukan untuk menunjukkan kepada pemerintah pusat bahwa masyarakat di wilayah Aceh Barat Selatan (ABAS) sangat mendukung bergabung dengan ALA, Jika ALA Di Bentuk Provinsi.       Mari kita dukung pemekeran ini.               Bagas

Kamis, 04 Februari 2016

Kegiatan Partai GERINDRA Kab Pidie Dalam Rangka Ulang Tahunnya Yang Ke 8


Ketua DPC Partai Gerindra, Bpk Drs Isa Alima ikut berpatisipasi dalam membangun masyarakat menuju sehat dan cerdas dengan gerakann yang disebut REVOLUSI PUTIH, apa itu Revolusi putih mari kita simak ulasan dari Lintas Pidie.




Tepat nanti tanggal 6 Feb 2016 Partai Gerindra merayakan ulang tahunnya yang ke 8 yang rencananya akan di selenggarakan di Banda Aceh. Demikian ujar Ketua Gerindra Pidie Bpk  Drs Isa Alima   dan selanjutnya dari masing masung DPC Gerindra di Kabupaten Pidie saat ini melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan agenda membagi bagikan sembako dan alat tulis kepada karyawan dinas kebersihan. Pantai asuhan Mina Raya dan Bambi  dengan tema Revolusi Putih yang mengandung makna membudayakan minum susu roti dan santunan. Dengan harapan masyarakat Pidie menjadi Sehat dan pintar mencetak manusia manusia yang jujur kedepannya..
Masing masun panti asuhan diberikan bingkisan sebanyak :
A. Dinas Kebersihan. 118 paket
B. Panti yatim piatu minaraya 32 paket
C. Panti Bambi 75 paket. 
Selanjutnya diharapkan kegiatan ini dapat memberikan faedah dan manfaat bagi masyarakat umum

Penertiban Sat Pol PP kab Pidie

Kegiatan penertiban yang dilakukan oleh Aparat Satpol PP dan Aparat Gabungan dari pihak Kepolisian. Kodim Koramil dan PM kab Pidie merupakan kegiatan yg positif dimana banyaak ruko ruko yg berdiri di kota Sigli ini menyalahi aturan  penertiban ini sementara menertibkan kanopi kanopi yang di pasang di depan ruko  banyak toko toko yg menyalahi ketentuan yg sudah ditetapkan oeh Pemda seperti menggunakan tiang didepan•. panjang kanopi yg meleihi aturan sehingga memakan lahan parkir atau umum  toleransi yg di berikan oleh Pemda adalah minimal 1 seng atau 2.5 m kedepan tanpa tiang  jadi nampak rapih dan indah tidak terkesan semrawut atau kumuh ujar Kepala Satpol PP bpk Sabar dengan tegas. Namun untuk hari ini 4 Peb16 kami masih memberikan toleransi atau pilihan. Apakah ingin di bongkar sendiri atau kami yang bongkar
Penertiban ini rencana akan kami laksanakan diseluruh kota yg ada di kab Pidie dan nantinya akan menertibkan surat ijin  kalau ruko berijin utk membuka toko tidak untuk Rumah sakit. Aoalagi lahan parkir umum di tandai dengan khusus Direktur ini menyalahi aturan. 
  Kota Sigli yg pertama yag akan kita tertibkan karna sebagai contoh. 
Tujuan dari penertiban ini adalah menjadikan kota Siglii indah  dan nyaman . namun masih banyak warga yg belum sadar akan keindahan. Tetapi kami tetap akan mengedapankan persuasif biar bagaimanapun mereka adalah warga kita ujar Kasat Pol PP yg memilki kumis tebal dan melintang ini.             bagas