Laman

Sabtu, 23 Januari 2016

Kunjungan Dubes Finlandia Lars Backstrom pada 10 Tahun Perjanjian Damai Helsinki di Aceh




Pasca 10 tahun perjanjian damai Helsinki di bumi Serambi Mekah, kondisi pembangunan Aceh makin menuju ke arah yang lebih baik.  Menyikapi situasi Aceh terkini, Gubernur Aceh, Dr. Zaini telah menerima kunjungan tamu dubes Finlandia Lars Backstrom beserta Utusan Khusus Finlandia untuk Mediasi Perdamaian Asia dan Asia Tengah, Kementrian Luar Negeri Finlandia itu, bertandang ke Pendopo Gubernur Aceh ditemani Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, Mrs. Paivi Hiltunen-Toiviso, guna membahas situasi Aceh terkini, Kamis (20/1).

Diakui nara sumber, dalam wawancara secara khusus dengan  awak KPK, Dubes Lars mengaku secara khusus datang untuk melihat langsung perkembangan pembangunan Aceh setelah sekian lama atau 10 tahun usia perdamaian yang disepakati antara kelompok Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah RI di Helsinki.

“Perkembangan pembangunan di sini sangat menggembirakan dan proses integrasi mantan kombatan dengan masyarakat berjalan dengan baik,” kata Lars usai bertemu dengan Gubernur Zaini Abdullah.

Lars Bakcstrom mengapresiasi perdamaian yang dicapai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia.  Menurutnya, Perdamaian dan MoU Helsinki sangat penting setelah konflik berkepanjangan terjadi di Aceh.

“Sejauh ini, saya lihat perdamaian Aceh sudah berjalan dengan baik, tentu banyak hal yang harus terus dibenahi pemerintah Aceh untuk menjadikan perdamaian yang kekal dalam naungan NKRI ujarnya lebih lanjut.




Sementara itu, Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah mengatakan, banyak perubahan terjadi di Aceh 10 tahun pasca perdamaian. Aceh sekarang sudah aman dan masyarakat hidup dengan tentram.

“Media internasional kadang berlebihan memberitakan kondisi Aceh dan membuat orang luar atau Investor takut datang. Tetapi setelah mereka melihat dan merasakan sendiri kondisi di Aceh, baru mereka percaya kalau Aceh sudah benar-benar aman, termasuk bagi investor,” kata  Gubernur Zaini kepada tamunya.

Gubernur Aceh yang akrab disapa Doto Zaini menjelaskan tentang otonomi khusus yang disertai dengan anggarannya. “Kita mengelola dana tersebut dengan baik agar tidak melenceng dari sasan dan merugikan kita semua, kalau dikelola pihak yang tidak pas” lanjutnya.

Terkait dengan perkembangan ekonomi, Gubernur mengatakan pemerintah terus melakukan berbagai macam upaya dengan mengundang investor masuk ke Aceh dan meningkatkan perkembangan kemajuan dibidang Pariwisata khususnya di pulau Sabang.

Selain membahas perekonomian, politik, keamanan, Lars Backstrom sempat menyinggung pelaksanaan Syariat Islam dan peranan perempuan di Aceh kepada Gubernur Zaini Abdullah.

Gubernur dr. Zaini menanggapi bahwa penerapan Syariat Islam di Aceh hanya untuk Muslim dan Islam di Aceh tidak Radikal. Tdak ada diskriminasi terhadap perempuan di Aceh.

“ Sesuai ajaran Islam, bahwa wanita yang patut dijunjung tinggi adalah ibu, ibu, ibu, maka begitu juga di Aceh, perempuan sangat dihormati dan sangat berperan diberbagai aspek, kita memiliki walikota perempuan di Banda Aceh,” pungkasnya.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Wakil Walikota Banda Aceh, Drs H Zainal Arifin, Kadis Syariat Islam, Prof. Dr. Syahrizal Abbas, Kadis Pariwisata, Reza Fahlevi, Badan Investasi dan Promosi Aceh, Anwar Muhammad, Kesbangpol Linmas, Nasir Zalba dan sejumlah SKPA lainya.

Motivasi gubernur dan masyarakat Aceh dalam menjaga semangat perdamaian di dalam Perdamaian Helsinki yang sudah berjalan 10 tahun, sangat patut mendapatkan apresiasi dan dukungan semua pihak sehingga harmonisasi Aceh dalam pangkuan NKRI menjadi lebih sinergis

(sumber Hendra, staf redaksi-Kaperwak Aceh).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar